oleh

Jelang Pemilu Serantak, Demorasiana Institute Minta Semua Pihak Brantas Pelaku Money Politik

JAKARTA, TEROPONGUMAT.COM – Politik uang (money politic) merupakan tindakan yang sangat merusak tatanan demokrasi, khususnya berkaitan dengan Pemilu, sejak diterapkannya pemilihan langsung aksi money politic selalu terjadi, modusnyapun beragam, bila diamati dari waktu ke waktu modus money politic semakin canggih, semakin ketatnya aturan ternyata menyebabkan pelaku money politic semakin lihai dalam bermanuver.

Upaya pemberantasan money politic harus dilihat sebagai upaya bersama, bukan hanya menjadi tanggung jawab penyelenggara Pemilu.

“Memberantas money politic butuh kerja bersama, jangan hanya dibebankan kepada penyelenggara. Masyarakat, Caleg, dan lembaga pemerhati Pemilu perlu bekerja kolektif, jadi jangan biarkan penyelenggara Pemilu Bekerja Sendiri” jelas Zaenal Abidin Riam, Koordinator Presidium Demokrasiana Institute, Sabtu (5/1).

Baca Juga,  Debat Pilpres 2019 Dinilai Kurang Berkelas

Lanjut Zaenal Abidin Riam (ZAR), Money politic tidak hanya mendatangkan kerugian bagi Caleg yang bersaing di Pileg, lebih dari itu merugikan masyarakat Indonesia secara umum.

“Bila ada yang bertanya mengapa harus kerja bersama berantas money politic, jawabannya jelas, karena money politic merusak sistem demokrasi, padahal kesejahteraan diperjuangkan melalui jalur demokrasi, demokrasi yang rusak tidak mungkin mendatangkan kesejahteraan bagi semua pihak” terangnya.

Baca Juga,  Pilpres 2019; Demokrasiana Institute Serukan Kampanye Adu Program

“Biasanya semakin menjelang hari pencoblosan aktivitas money politic juga semakin tinggi, Caleg yang malas turun langsung ke masyarakat lebih mengandalkan jual beli suara menjelang pencoblosan, ini perlu di perhatikan dengan seksama” pungkasnya.

Dia menambahkan bahwasanya memberantas money politic memang bukan upaya mudah, namun bukan berarti mustahil, “jika kita memiliki komitmen yang kuat dalam penerapan demokrasi keindonesiaan maka semuanya bisa dilakukan.”[ZAR]

Komentar

Post Terkait,