oleh

Karena Revolusi Mental; Mencerdaskan Anak Bangsa

Revolusi mental harus dimulai dari
pendidikan, mengingat peran pendidikan sangat strategis dalam membentuk mental anak bangsa. Pengembangan kebudayaan maupun karakter bangsa diwujudkan melalui ranah pendidikan. Tahun 1968, King terbunuh namun ide persamaan haknya tak bisa dibungkam.

Revolusi mental dan pendidikan karakter dimulai dari dalam kelas sejak peserta didik memperoleh pendidikan. Jika revolusi mental dan pendidikan karakter berhasil terlaksana, maka terbukalah pintu gerbang “Indonesia baru”.

Pendidikan demikian tidak lagi sebagaimana ideal konsep pendidikan sebagai lembaga pencerahan dan pembangun peradaban, menciptakan peradaban manusia. Pendidikan karakter dikesampingkan bahkan tidak pernah terpikirkan untuk dikembangkan di Indonesia. Dalam pemikiran sebagian guru di sekolah mapun dosen yang penting anak cerdas/pintar (secara kognitif) di banyak mata pelajaran, soal baik atau tidaknya perilaku anak didik itu (cerdas secara afektif) tidak dipersoalkan.

Menurut Suprapto (2014) pendidikan pengembangan karakter adalah sebuah proses berkelanjutan dan tidak pernah berakhir (never ending process). Selama sebuah bangsa ada dan ingin tetap eksis, pendidikan karakter harus menjadi bagian terpadu dari pendidikan alih generasi.

Dalam kesempatan itu, mencapai kesimpulan bahwa pendidikan merupakan fondasi utama dan terpenting untuk menambah wawasan, membentuk karakter dan meningkatkan daya saing seseorang. Namun dalam konteks ke-Indonesiaan, pendidikan dimaknai sebagai upaya untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdasarkan falsafah dan pandangan hidup bangsa, Pancasila.

Berikutnya, pendidikan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan, meningkatkan kualitas, pribadi, dan watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Karena itu, tolak ukur keberhasilannya adalah menghasilkan warga negara yang mampu berkarya dan memiliki budi pekerti luhur.

Maka dari itu, pendidikan karakter menjadi sangat penting karena nilai-nilai baik (positif) seperti kesetiakawanan sosial, tanggung jawab sosial dan disiplin sosial, serta sikap moral yang baik ada dalam konsep pendidikan karakter tersebut. Untuk tujuan baik itulah pendidikan karakter kembali diselenggarakan di berbagai sekolah-sekolah di seluruh Nusantara.

Implementasi pendidikan karakter tidak harus dikaitkan dengan anggaran. Dibutuhkan komitmen dan integritas para pemangku kepentingan di bidang pendidikan untuk secara sungguh-sungguh menerapkan nilai-nilai kehidupan di setiap pembelajaran.

Pendidikan karakter tidak sekadar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, tetapi juga menanamkan kebiasaan tentang hal mana yang baik.

Ilmu mempunyai kerangka penjelasan yang masuk akal yang mencerminkan kenyataan yang sebenarnya melalui penjelasan teoritis secara rasional dengan pembuktian yang dilakukan secara empiris. Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari pembahasan artikel ini adalah revolusi mental dan pendidikan karakter merupakan dua aspek yang terkait dan saling selaras. Kedua hal tersebut dapat memberikan pemecahan masalah yang relatif lebih tuntas dalam pembentukan pribadi sumber daya manusia Indonesia yang pandai dan berakhlak mulia.

Saya pernah memahami tulisannya, Pak Anies Baswedan sebagai menteri Pendidikan, beliau rumusan Pembukaan UUD 1945 yang menegaskan tekad bangsa ini: menciptakan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Bila menengok kondisi bangsa saat itu yang baru saja menyatakan kemerdekaan, sepertinya, bangsa Indonesia minus dalam segala hal. kemiskinan terjadi dimana-mana (tapi Sukarno menyatakan. menciptakan kesejahteraan umum), buta huruf sangat tinggi (tetapi Soekarno mengatakan, mencerdaskan kehidupan bangsa).

Pendidikan demikian tidak lagi sebagaimana ideal konsep pendidikan sebagai lembaga pencerahan dan pembangun peradaban, menciptakan peradaban manusia. Pendidikan karakter dikesampingkan bahkan tidak pernah terpikirkan untuk dikembangkan di Indonesia. Dalam pemikiran sebagian guru di sekolah mapun dosen yang penting anak cerdas/pintar (secara kognitif) di banyak mata pelajaran, soal baik atau tidaknya perilaku anak didik itu (cerdas secara afektif) tidak dipersoalkan.

Momentum ini hendaknya menjadi momentum refleksi bagi para guru. Pendidikan tak ubahnya seperti komoditi saja dan serba tunduk pada hukum pasar yaitu (supply and demand). Sementara itu, siswa yang masuk dalam sekolah, pemikirannya terpenjarakan oleh doktrin-doktrin modern dan neoliberal yang menghendaki kesuksesan hidup ala kaum neolib.

Jadilah sekolah menjadi semacam pabrik yang mana guru-gurunya bekerja untuk melahirkan siswa-siswa yang cenderung pragmatis dan kelak menuruti gaya hidup borjuis-kapitalis. Para siswa diberikan kompetensi yang sekiranya dibutuhkan oleh dunia industri atau dunia kerja yang dalam hal ini seperti yang penulis katakan pendidikan diarahkan tunduk pada kemauan pasar. Jadilah sekolah sebagai lembaga yang mensuplai tenaga kerja untuk dunia kerja.

Catatan Kecil dari Saya, untuk anak bangsa.

Moh. Hatta Sahib Budang.

Metode: Berbagai Referensi tentang Pendidikan Berkarakter, Dan di Rujukannya dalam UUD 1945.

Baca Juga,  Warga Motiloa; Pergantian Malam Tahun Baru; Gelar Zikir dan do'a Bersama

Komentar

Post Terkait,