oleh

Sagaji Gamkonora (Motiloa)

SEJARAH SINGKAT SAGAJI GAMKONORA ( MOTILOA).

Kelahiran Sagaji Gamkonora (Sahrin Malamo Raja Kawasa).

Pada waktu itu lahir lah Sahrin Malomo, ketika itu melihat beliau ada kemampuannya sehingga di imigrasi di Ternate. Atau di diserahkan pada syeh Ishak Waliyullah untuk di asuh. Bayi ini di terimah oleh syeh dan diberi nama Sahrin Malamo. Syeh melihat ada tanda-tanda bangsawan pada bayi,, olehnya itu di asuh sampai dewasa sekaligus murid pertama dari syeh Ishak Waliyullah. Setelah Sahrin Malamo suda cukup umur, ia di antar ke Ternate untuk dipertemukan dengan sultan ternate. Sultan ternate menerima dan menyambut dengan senang. Sultan menyambut berka ngo’a nane ge ngoi ni la’eng dunia akhirat (anak ini dara daging saya dunia akhirat). Begitu bersemangat dan bahagia sang sultan mengangkat Sahrin Malamo menjadi Sangaji Gamkonora dengan geralar Syah maraja kawasa.

Gamkonora dikenal semenjak berkuasanya sangaji sahrin malamo syah marajakawasa diangkat oleh sultan ternate menjadi sangaji gamkonora berpusat di gamud hera (Gamkonora sekarang) wilayah hukumnya dari buku siol (gunung sembilan) sampai buku sangaji (gunung sangaji).

Setelah pengangkatan Sahrin Malamo syah marajakawasa oleh sultan sebagai sangaji gamkonora dan ditandai berakhirnya jaman momole di tana gamkonora atau sangaji kafir (sangaji palege). Setelah diangkat senbagai sangaji ia menyatukan semua soa yang ada di bawah kaki gunung gamkonora dalam satu suku yang kemudian dikenal dengan nama suku gamkonora berdasarkan perintah sultan ternate.

Secara sosiologis di pesisir kie mahutu sebelum masuknya islam telah terbentuk kelompok-kelompok sosial yang hidup bermigrasi dari satu dataran kedataran lain. Proses migrasi datang dari berbagai etnis suku bangsa yang memdiami dataran Halmahera. Ketika kita menelo di Gamud Hera (Desa Gamkonora) ada istila penyebutan perkampungan Arab, perkampungan jawa, Perkampungan Cina, ini merupakan penyebutan perkampungan sejak berkuasa sangaji Sahrin Malamo hingga tahun 80-an yang sekarang mulai hilang bahkan telah diganti dengan istilah baru di desa Gamkonora (Gamud Hera_kampung besar).

Dan sagaji Gamkonora sampai saat ini masih berjalan sesuai syariat islam di tanah Motiloa, yang saat menjabat sebagai Sangaji Gamkonora yaitu; Rajab Sahib Bil Hidayat Komaludi Syah di angkat dan di lantik oleh sulatan Jailolo pada waktu itu.

ASAL SANG KAPITA GAMKONORA.

Gamkonora sejak abad ke-14 menjadi daerah penyumbang prajurit dan tokoh birokrat handal bagi kerajaan ternate. Dari sekian banyak nama-nama kapita yang termashur asal Gamkonora atau di juluki sebagai ( Sangaji Gamkonora: Saharin Ma Lamo Raja Kawasa) yang turut andil dalam perjalanan panjang kerajaan ternate pada masa Sultan Babullah, dan bagitu juga banyak kapita-kapita di Gamkonora diantaranya.

  1. Kibaba /Kibuba (Kimalaha Baba) ; kapita pertama kerajaan ternate yang dipercayakan melakukan ekspansi ke seberang lautan di masa sulan Zainal abidin (tahun 1450).
  2. Kapita Samarau (Samangau Kelo) ; adalah Putera Kibaba / Kibuba yang menjadi Salahakang Ambon sekaligus Jogugu kesultanan Ternate di masa pemerintahan sultan Bayanullah / Bayan Siirullah. Kapita Samarau adalah penakluk daerah ambon, hitu, seram, kelang, buano, saparau, mindanao, selayar dan sekitarnya.
  3. Kapita rubohongi ; adalah putera Samarau yang menjadi kapita cakap dan handal juga panglima laut terkenal di masa sultan Babullah. sahabat rubohongi yang terkenal adalah kapita kapalaya dari sula, di masa babullah dua orang ini (rubohongi dan kapalaya) mendampingi babullah hingga babullah dijuluki penguasa 72 pulau.
  4. Salahakang Laulata ; ayahnya adalah Sultan Khairun. Sultan khairun menikah dengan adik kandung sangaji Gamkonora yang biasa disapa Sangaji Leliatu dan mempunyai putera yang kelak bernama Laulata. Ketika khairun terbunuh di benteng gamlamo, sultan babullah dan saudara tirinya Salahakang Laulata mengobarkan perang hingga portugis meninggalkan maluku selama 100 tahun. di masa pemerintahan Sultan Babullah, Laulata menjadi salahakang (Raja/ gubernur) di Huamoal.

Pada abad ke 15 Klan Tomagola, dibawah pimpinan Kibuba, mulai menduduki Seram dan sekitarnya, kemudian melangkah ke kepulauan Ambon, sebelum akhir tahun 1600. Kibuba sendiri ketika itu belum beragama, tetapi akhirnya ia memeluk Islam dan menikah dengan Baifta Broly, puteri seorang Ternate bernama Sehe Jumali yang bermukim di Makian. Dari perkawinan ini lahir 3 orang anak: Dudu, Samarau, dan Molicanga. Dudu melanjutkan kepemimpinan klan Tomagola setelah wafatnya Kibuba.

Setelah Dudu meninggal, keluarga Tomagola berada dibawah dua sub-klan, masing-masing dipimpin Samarau dan Molicanga. Dari kedua pimpinan sub-klan Tomagola itu, Samarau yang paling menonjol. Hal ini menyebabkannya diutus sultan sebagai salahakan di Ambon.

Samarau mempunyai dua orang putera: Rubohongi dan Saptiron. Dari kedua putera Samarau itu, Rubohongi merupakan orang kepercayaan dan pembantu utama Babullah. Setelah Babullah dinobatkan sebagai Sultan Ternate, ia mengirim Rubohongi ke Ambon (1570) sebagai salahakan untuk menggantikan ayahnya, Samarau, yang sudah tua. Dibawah Rubohongi, Ternate berhasil memantapkan posisinya atas Seram, Buru, dan sekitarnya. Rubohongi juga berlayar ke Tomini dan mempersembahkan Teluk Tomini di Sulawesi Tengah kepada Kesultanan Ternate.

Rubohongi mempunyai lima anak: Jumali, Angsara, Kasigu, Dayan, dan Basaib. Jumali, putera pertama Rubohongi, memiliki seorang putera bernama Sabadin, yang menurunkan Majira. Pada masa pemerintahan Sultan Hamzah, Majira menjadi salahakan, dan melakukan pemberontakan melawan VOC.

Keturunan Rubohongi lainnya yang menjadi salahakan adalah Luhu dan Leilato, masing-masing adalah putera Dayan dan Basaib. Pada masa kekuasaan merekalah Portugis mulai datang ke Ambon (1515). Tetapi, dibawah para Salahakan klan Tomagola ini pula, Ternate mendominasi kepulauan Amboina, termasuk pulau Buru, Ambalau, Manipa, Kelang, Buano, Seram, Seram laut, Nusalaut, Honimoa (Saparua), Oma (Haruku) dan Ambon sendiri.
Keluarga Tomagola secara berkesinambungan menjadi salahakan dan memerintah negeri-negeri di atas hingga akhir abad ke-17. Pada akhir abad ini, Sultan Mandar Syah menyerahkan kepulauan Amboina kepada VOC, berdasarkan perjanjian Ternate-VOC tertanggal 12 Oktober 1676.

Suku dan bahasa Gamkonora.

Gamkonora terdiri dari dua kata, yakni Gam dan Konora yang artinya kampung tengah karena berada di kaki gunung kie mahutu (gunung Gamkonora sekarang). Nama gamkonora berasal dari bahasa ternate, proses pemberian nama ini juga erat kaitanya dengan masuknya islam di tanah gamkonora yang di bawah penyiar islam berkebanggsaan bagdad dan mesir yakni Ishak Waliyullah (dari bagdadi_Irak sekarang) dan pendeta Juruwese terusan Zeus Ahmad Sagale (Mesir).

Oleh karena itu masyarakat Motiloa (Gamkonora) di dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia berdialek daerah dalam pergaulan sehari-harinya. Sehingga ketika orang di luar Motiloa (Gamkonora) yang berkunjung ke Motiloa, tidak terlalu sulit untuk beradaptasi dengan bahasa pergaulan sehari-hari. Hal ini sangat berbeda jauh, ketika kita berada di daerah Jawa dan di tataran Sunda, karena di perkampungan, masyarakat menggunakan bahasa Jawa atau bahasa Sunda, sehingga bagi pendatang harus lebih lama lagi beradaptasi di dalam menggunakan bahasa pengaulan.

Harapan saya ke warga Motiloa (Gamkonora), saya sangat berbangga akan keanekaragaman suku dan bahasa di Halmahera Barat. Oleh karena itu, semoga Pemerintah dapat melestarikan kekayaan yang dianugerahkan oleh Allah SWT ini untuk dapat mewujudkan.

Tulisan: Anak-anak Zi’o Motiloa.

Dari Adinda Akbar Fara. Di sempurnakan dalam Referensi Sejarah Ternate, dan di kutip dari ide dan gagasan anak Mudah Motiloa. Moh. Hatta Sahib Budang.

Terimaksih.

Tabe’a Joh

Baca Juga,  PB HMI Desak Jokowi Fokus Melunasi Janji Politik

Komentar

Post Terkait,