oleh

Membesar-besarkan Adanya Informasi Bohong “Hoax” Juga Memperlihatkan Sikap Arogansi

Hari ini, Hoax seakan menjadi Tranding topik yang hangat diperbincangkan. banyak orang kemudian mencoba melakukan pendalaman soal Hoax baik itu lewat diskusi-diskusi kecil maupun dalam bentuk seminar dan berupaya memberikan kesimpulan yang dianggapnya benar dan meyakinkan, termasuk saya hari ini, adanya tulisan ini yang kemudian bisa dibilang bagian dari pada praktek yang sama dilakukan oleh orang-orang yang saya maksudkan diatas. dan jika kemudian ditarik kesamaanya diantara kita ingin mencari benang merah soal hoax itu sendiri guna menambah keyakinan kita terhadap hasil temuan itu. Hal tersebut sejatinya secara Ilmiah sah-sah saja dilakukan oleh siapapun, karna hal itu untuk menghindari keragu-raguan dalam bersikap.

Lalu bagaimana dengan Hoax “Bohong” itu sendiri, apakah perlu diributkan? sebelum saya mencoba menjelaskan hal itu. mari kita lihat definisi umum tentang Hoax. Hoax atau Berita bohong adalah suatu berita yang tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Berita palsu atau berita bohong atau hoaks (bahasa Inggris: hoax) adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya, “Wikipedia” jadi dari diatas kata kuncinya yang hendak saya tarik adalah, Hoax, Informasi yang tidak sesuai dengan fakta dilapangan, seolah-olah dibuat benar.

Saya secara tegas katakan tidak perlu! Mengapa tidak perlu?. pada kesempatan ini izinkan saya untuk menjelaskan pertanyaan tersebut, dan saya akan memulainya dengan suatu pertanyaan kehidupan sehari-hari.

Pertanyaan pertama (1) : Joni membeli sayur dipasar, berangkat dari rumah pagi pada pukul 08.30 dan kembali dari pasar pada pukul 10.00.

Baca Juga,  PB-HMI: Akses Perekonomian Korban Tsunami Selat Sunda Perlukan Perhatian

Pertanyaan Kedua (2) : Joni membeli sayur dipasar, berangkat dari rumah pagi pada pukul 10.30 dan kembali dari pasar pada pukul 11.00.

Dari pertanyaan diatas, nomor berapa yang disebut tidak sesuai dengan fakta atau Hoax? bagi orang yang tidak mengamati atau mengetahui perjalanan Joni kepasar dan waktu kapan dirinya balik kerumah tentu menimbulkan keragu-raguan untuk menjawab karna bisa memicu keragu-raguan serta takut salah atau tidak benar atau tidak sesuai dengan fakta dilapangan. dalam kondisi itu orang secara spontan dapat menjawab menggunakan Asumsi masing-masing yang kebenaranya masih dapat diragukan. nah dari asumsi itulah kemudian dipaksa kualitasnya menjadi benar dan dominan melembaga kepada semua orang yang mendengar cerita joni padahal belum tentu jawaban yang bermodalkan asumsi itu benar. padahal Asumsi itu belum boleh terpakai dalam pengambilan keputusan sebab, sifatnya masih sementara (Hipotesis). Asumsi itu sendiri merupakan sebuah anggapan, dugaan, pikiran yang dianggap benar untuk sementara sebelum ada kepastian. dalam pekerjaan Ilmiah Asumsi dianggap perlu guna mendorong reaksi peneliti melakukan upaya pengujian Asumsi-Asumsi atau Hipotesis-Hipotesis tersebut diatas (Asum Pertama dan Kedua) guna melakukan penarikan kesimpulan. hal tersebut tujuanya agar dapat mengurangi keragu-raguan dalam menjawab aktifitas Joni itu sendiri. begitulah cara kita bersikap dan menyelesaikan masalah selama ini.

Nah dari situ kita dapat melihat bahwasanya Hoax sangat tidak perlu dipermasalahkan karna keberadaanya masih bersifat sementara dari aspek pendekatan metodelogi Ilmiah. Dari dua data yang hendak diverikasi sebagaimana contoh diatas diantara salah satunya harus tersingkir dan menjadi hoax, sebagai korban dari lahirnya kesimpulan. atau diantara bagian – bagian dari kedua data itu terbuang dan tersingkir dan menjadi Hoax karna tidak sesuai dengan realitas yang sesungguhnya, hal bisa saja terjadi.

Baca Juga,  Melihat Kinerja DPR Yang Tak Menguntungkan Rakyak

Berbicara Ilmiah berarti berbicara Ilmu pengetahuan dan ilmu pengetahuan yang dipahami selama ini tak boleh menjadi anak durhaka dengan melepaskan diri dari nilai-nilai agama sebagai sumber etika dalam penggunaan ilmu pengetahuan. Agama yang dimaksudkan disini tidak bertumpu pada perspektif dangkal melainkan perspektif umum. artinya membicarakan kesejahteraan, keadilan, kemakmuran menunjukan bahwa adanya campur tangan Agama dalam pembahasan hidup bermasyarakat, berbangsa serta bernegara.

Dari pandangan tersebut saya ingin mengatakan bahwa Hoax diantara ciri-cirinya hampir setiap hari dilakukan oleh manusia dalam kehidupan, sebagai contoh, Dino ditanya oleh amir jam berapa Joni berangkat ke kantor pagi tadi? karna Doni tidak melihat jam saat Joni berangkat Doni kemudian menjawabnya dengan menambahkan kata “sekitar” jam 7 tadi. artinya kata “sekitar” itu menunjukan keragu-raguan Doni yang berbotensi tidak benar atau bohong atau tidak sesuai dengan fakta dilapangan, Doni secara sadar menggunakan kata sekitar oleh karna selain takut salah atas ketidakbenaran jawabanya (Pendekatan Ilmiah) juga, karna bentuk sikap “menghargai” lawan bicaranya agar tidak kecewa setelah mengetahui jawaban yang sebenarnya (Pendekatan Etika).

Baca Juga,  Melawan Stigma Menjelang Pemilu

Bagi saya Hoax/perkataan Bohong tidak baik dilakukan oleh siapa saja, apalagi tujuanya bermuatan provokatif dan memecah belah bangsa tanpa mempertimbangkan nilai-nilai sosioal budaya masyarakat. Akan tetapi perkataan bohong baru bisa diklaim kebenaranya kepada siapa saja aktornya setelah melakukan verifikasi Ilmiah. Anehnya justru orang mengatakan itu bohong (reaksi) tanpa menyebutkan orang serta bagian-bagian atau fakta-fakta apa saja yang melatarbelakangi orang itu berkata bohong yang ada justru mencirikan kebohongan itu sendiri. artinya bertindak hanya mempentingkan asumsi sendiri yang terjadi justru membuat serta mempertahankan kebenaran sendiri tanpa mau mendengar pendapat orang lain. artinya demikian menunjukan sikap arogansi yang sejatinya melanggar etika ilmiah. (Waullahhu alam)

Referensi :

  • https://id.m.wikipedia.org/wiki/Berita_bohong
  • cmejhttps://vhocket.wordpress.com/2011/10/12/etika-ilmiah/

Komentar

Post Terkait,