oleh

Budak dan Peradaban; Sebuah Esay Perjalanan Wisata Ali Syariati

Dengan sepenuh hati, aku mulai mendengarkan penjelasan dari pemandu wisata tentang struktur piramida. Aku berkesimpulan bahwa budak-budak lah yang membawa delapan ratus juta balok batu dari tempat yang jauh ke Kairo yang akan digunakan untuk membangun enam piramida raksasa dan tiga piramida kecil.

Delapan ratus juta balok batu yang dibawa ke Kairo dari tempat yang jauhnya delapan puluh mil untuk mendirikan bangunan tempat menyimpan jasad-jasad Firaun yang harus dilestarikan. Di dalamnya, kuburan tempat dibaringkannya jasad-jasad tersebut dibuat dari lima balok marmer. Empat baloknya digunakan sebagai dinding, dan yang satunya digunakan untuk atapnya.

Membayangkan bagaimana diameter beban balok-balok marmer tersebut, yang digunakan sebagai atap kuburan tersebut, bisa tergambar bagaimana balok-balok tersebut, jutaan balok batu, harus diangkat ke atas hingga saling tumpang-tindih hingga ke puncak piramid sebagai penyangga kuburan tersebut.

Selama lima ribu tahun, atap kuburan tersebut tetap kukuh menyangga beban balok-balok batu tersebut.  Aku begitu terkesan oleh pekerjaan yang mengagumkan tersebut. Bila menengok ke jangka waktu tiga hingga empat ratus tahun, aku penasaran pada balok-balok batu yang berserakan. “Batu-batu apa itu?” Aku bertanya pada pemandu wisata.

Baca Juga,  Rekonstektualisasi Pemikiran dan Pergerakan HMI

Menurutnya, “Bukan apa-apa. Hanya beberapa balok batu.” Sekitar tigapuluh ribu budak dipekerjakan untuk membawa balok-balok batu yang begitu berat tersebut dari jarak ratusan mil, setiap harinya ratusan budak-budak itu mati tertimbun batu. Ratusan budak yang mati itu membuatku penasaran bertanya di mana mereka dikuburkan.

Begitu tak pentingnya mereka dalam sistim perbudakan, sehingga ratusan budak yang mati itu dikuburkan dalam satu lubang. Mereka yang bertahan hidup harus tetap mengangkuti beban-beban berat tersebut. Aku katakan pada pemandu wisata bahwa aku ingin melihat kuburan budak-budak yang remuk jadi debu itu. Si pemandu wisata, setengah berseru, mengatakan, “Tak ada yang bisa dilihat!”

Dia menunjuk ke arah kuburan budak-budak–yang dikubur di dekat piramida atas perintah Firaun; maksudnya agar roh budak-budak itu bisa tetap bekerja layaknya raga-raga mereka.

Baca Juga,  Rekonstektualisasi Pemikiran dan Pergerakan HMI

Aku memohon agar pemandu wisata meninggalkanku sendirian. Aku kemudian melangkah ke kuburan budak-budak itu, bersila dan aku merasa sangat dekat dengan orang-orang yang dikuburkan di lubang itu. Aku merasa saudara satu ras. Walaupun, memang, mereka datang dari wilayah yang berbeda, namun perbedaan-perbedaan tersebut tak berpengaruh saat kita mampu melihat landasan yang menyebabkan manusia terpecah-pecah.

Karena itu, bagiku, konsep orang asing dan saudara itu menjadi gejala yang aneh. Aku tak terlibat dalam sistim perbudakan tersebut, yang membagi-bagi manusia ke dalam klasifikasi ras dan kelas; karenanya, aku samasekali tak punya bertanggung jawab atasnya, selain  mendapatkan perasaan yang hangat, dan simpati pada jiwa-jiwa yang ditindas ini.

Aku membalikkan pandangan ke piramida, dan sadar bahwa, di samping kemegahan piramida-piramida itu, kini piramida-piramida itu begitu asing bagiku dan menjadi berjarak denganku. Dengan kata lain, aku merasa sangat benci pada monumen-monumen peradaban di sepanjang sejarah yang didirikan di atas tulang belulang nenek moyangku.

Baca Juga,  Rekonstektualisasi Pemikiran dan Pergerakan HMI

Nenek moyangku juga membangun tembok akbar Cina. Mereka yang tak sanggup mengangkat beban, lumat ditimbun batu dan dikuburkan di dinding tembok ditutup batu-batu. Begitulah monumen-monumen akbar peradaban dibangun –dengan mengorbankan daging dan darah nenek moyangku!

Oleh: Dr. Ali Shariati, Lulusan Universitas Sorbonne Pranci

dikutip dari, http://lagaligopos.com

Komentar

Post Terkait,